Perang Padri (juga dikenal sebagai Perang Minangkabau) adalah perang yang terjadi dari tahun 1803 sampai 1837 di
Sumatera Barat,
Indonesia antara kaum Padri dan Adat.
Kaum Padri adalah umat
muslim yang ingin menerapkan
Syariat Islam di negeri
Minangkabau di Sumatera Barat. Sedangkan
kaum Adat mencakup para bangsawan dan ketua-ketua adat di sana. Mereka meminta tolong kepada
Belanda, yang kemudian ikut campur pada tahun 1821 dan menolong kaum Adat mengalahkan faksi Padri.
Latar Belakang
Perang Padri dianggap dimulai pada tahun 1803, sebelum campur tangan
Belanda, dan merupakan konflik yang pecah di negeri
Minangkabau ketika kaum Padri mulai memberangus adat istiadat yang mereka anggap sebagai tidak
Islami. Namun setelah pendudukan
Kerajaan Pagaruyung oleh Tuanku Pasaman, salah satu pemimpin Padri pada tahun 1815, pada tanggal 21 Februari 1821, kaum bangsawan Minangkabau membuat kesepakatan dengan Belanda di
Padang untuk melawan mereka memerangi kaum Padri.
[1]Kaum Padri, seperti halnya para jihadis sezaman di
Kekhalifahan Sokoto di
Afrika Barat, adalah kaum puritan Islam yang telah menunaikan ibadah
haji ke
Makkah dan kembali
[2] dengan terinspirasi untuk membawa
Al-Quran dan
syariah ke posisi yang lebih besar pengaruhnya di Sumatera. Gerakan Padri terbentuk pada awal abad ke-19 dan berusaha untuk membersihkan budaya dari tradisi dan kepercayaan yang dipandang oleh para pengikutnya sebagai tidak Islami.
Pada tahun 1820-an, Belanda belum mengkonsolidasikan kepemilikan mereka di beberapa bagian Hindia Belanda (kemudian menjadi Indonesia) setelah memperolehnya kembali dari Inggris. Hal ini terutama terjadi di pulau Sumatera, di mana beberapa daerah tidak berada di bawah kekuasaan Belanda sampai abad ke-20.
Perang Padri I 1803-1825
Awal mula 1803-1821
Sepulangnya tiga orang
alim ulama dari
Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu
Haji Miskin,
Haji Sumanik dan
Haji Piobang, mereka mengungkapkan keinginan mereka yang ingin menyempurnakan penerapan syariat Islam di masyarakat
Minangkabau.
[3] Mengetahui hal tersebut,
Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung keinginan ketiga orang ulama. Bersama dengan ulama lain, delapan tokoh ini dikenal sebagai Harimau Nan Salapan (Harimau yang Delapan).
[4]Harimau Nan Salapan kemudian meminta
Tuanku Lintau yang memiliki kedekatan dan kekerabatan dengan
Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah untuk mengajak Kaum Adat agar meninggalkan beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam beberapa kali perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Konflik ini mendorong terjadinya gejolak di antara beberapa
nagari dalam Kerajaan Pagaruyung, sampai pada 1815, Kaum Padri di bawah pimpinan
Tuanku Lintau menyerang Kerajaan Pagaruyung dan pecahlah peperangan di
Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan.
[5] Catatan
Thomas Stamford Raffles yang pernah mengunjungi
Pagaruyung pada tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa
Istana Kerajaan Pagaruyung yang sudah terbakar.
[6]Keterlibatan Belanda 1821-1825
Pada 21 Februari 1821, karena telah terdesak dan keberadaan
Yang Dipertuan Pagaruyung di pengasingan, kemenakan beliau,
Sultan Alam Bagagarsyah yang disertai beberapa pemuka
Kaum Adat meminta bantuan kepada
Belanda. Meski demikian, beberapa Kaum Adat yang lain merasa bahwa
Bagagarsyah tidak memiliki hak mewakili Kerajaan Pagaruyung.
[7] Lewat pengajuan bantuan ini, Belanda menjadikannya sebagai tanda pengajuan penyerahan Kerajaan Pagaruyung kepada pemerintah
Hindia Belanda, kemudian mengangkat
Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar.
[8]Sebagai bagian atas persetujuan bantuan Belanda, Kaum Adat menyerahkan daerah
Simawang dan
Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada bulan April 1821 atas perintah
Residen James du Puy di
Padang.
[9] Kemudian pada
8 Desember 1821 datang tambahan pasukan yang dipimpin oleh
Letnan Kolonel Raaff untuk memperkuat posisi pada kawasan yang telah dikuasai tersebut.

Fort van der Capellen
Pada 4 Maret 1822, pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. Kemudian Belanda membangun benteng pertahanan di
Batusangkar dengan nama
Fort Van der Capellen, sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di
Lintau.
[10]Pada 10 Juni 1822 pergerakan pasukan Raaff di
Tanjung Alam dihadang oleh Kaum Padri, tetapi pasukan Belanda dapat terus melaju ke
Luhak Agam. Pada 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di
Baso, Kapten Goffinet menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822. Pada September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus tertekan oleh serangan
Kaum Padri yang dipimpin oleh
Tuanku Nan Renceh.
Setelah mendapat tambahan pasukan pada 13 April 1823,
Letkol Raaff mencoba kembali menyerang
Lintau, tetapi Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan, sehingga pada 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke
Batusangkar. Pada 1824,
Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Pagaruyung atas permintaan
Letkol Raaff, tetapi pada tahun 1825 raja terakhir Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung.
[11] Sedangkan Raaff telah meninggal dunia secara mendadak di Padang pada tanggal 17 April 1824 setelah sebelumnya mengalami
demam tinggi.
[12]Pada September 1824, pasukan Belanda di bawah pimpinan
Mayor Frans Laemlin telah berhasil menguasai beberapa kawasan di
Luhak Agam di antaranya
Koto Tuo dan
Ampang Gadang. Kemudian mereka juga telah menduduki
Biaro dan
Kapau, tetapi karena luka-luka yang dideritanya di bulan Desember 1824, Laemlin meninggal dunia di Padang.
[13]Gencatan Senjata 1825 - 1831
Perlawanan yang dilakukan oleh
Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu dipimpin oleh
Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai melalui "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825.
[14] Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di
Eropa dan
Jawa seperti
Perang Diponegoro.
Selama periode
gencatan senjata,
Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan dan juga mencoba merangkul kembali
Kaum Adat. Sehingga akhirnya terjadi kesepakatan yang dikenal dengan nama "
Sumpah Satie Bukik Marapalam" di
Bukit Marapalam,
Kabupaten Tanah Datar yang mewujudkan konsensus Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang bermakna bahwa
Adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada
Al-Qur'an.
[15]
Tuanku Imam Bonjol, salah seorang pemimpin Perang Padri, yang diilustrasikan oleh
de Stuers pada tahun
1820.
Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Muhammad Shahab muncul sebagai pemimpin dalam Perang Padri setelah sebelumnya ditunjuk oleh
Tuanku Nan Renceh sebagai Imam di
Bonjol.
[16] Kemudian menjadi pemimpin sekaligus panglima perang setelah Tuanku Nan Renceh meninggal dunia.
[17]Pada masa kepemimpinannya, ia mulai menyesali beberapa tindakan keliru yang dilakukan oleh Kaum Padri terhadap saudara-saudaranya, sebagaimana yang terdapat dalam memorinya. Walau di sisi lain
fanatisme tersebut juga melahirkan sikap kepahlawanan dan cinta tanah air.
[5]Perang Padri II 1831-1838
Jatuhnya Luhak Nan Tigo 1831-1833
Setelah berakhirnya
Perang Diponegoro dan pulihnya kekuatan
Belanda di Jawa,
Pemerintah Hindia Belanda kembali mencoba untuk menundukan
Kaum Padri. Hal ini sangat didasari oleh keinginan kuat untuk penguasaan penanaman
kopi yang sedang meluas di kawasan pedalaman Minangkabau (wilayah darek). Sampai
abad ke-19, komoditas perdagangan kopi merupakan salah satu produk andalan Belanda di Eropa.
Christine Dobbin menyebutnya lebih kepada perang dagang, hal ini seiring dengan dinamika perubahan sosial masyarakat Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pesisir pantai barat atau pantai timur. Sementara Belanda pada satu sisi ingin mengambil alih atau monopoli.
[11]Selanjutnya untuk melemahkan kekuatan lawan, Belanda melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menyerang nagari
Pandai Sikek yang merupakan salah satu kawasan yang mampu memproduksi
mesiu dan senjata api. Kemudian untuk memperkuat kedudukannya, Belanda membangun
benteng di
Bukittinggi yang dikenal dengan nama
Fort de Kock. Pada awal
Agustus 1831,
Lintau berhasil ditaklukkan dan menjadikan
Luhak Tanah Datar berada dalam kendali Belanda. Namun
Tuanku Lintau masih tetap melakukan perlawanan dari kawasan
Luhak Limo Puluah.

Persiapan pasukan Belanda di Fort de Kock
Sementara ketika
Letnan Kolonel Elout melakukan berbagai serangan terhadap
Kaum Padri antara tahun 1831–1832, ia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan
Sentot Prawirodirdjo, salah seorang panglima pasukan
Pangeran Diponegoro yang telah membelot dan berdinas pada Pemerintah Hindia Belanda setelah usai perang di Jawa. Namun kemudian
Letnan Kolonel Elout berpendapat, kehadiran
Sentot yang ditempatkan di
Lintau justru menimbulkan masalah baru. Beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa. Di Jawa, Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya dan mengirimnya kembali ke Sumatra. Sentot dibuang dan ditahan di
Bengkulu, sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda.
Sentot Prawirodirdjo, yang diilustrasikan oleh
Justus Pieter de Veer.
Pada Juli 1832, dari
Batavia dikirim pasukan
infantri dalam jumlah besar di bawah pimpinan
Letnan Kolonel Ferdinand P. Vermeulen Krieger, untuk mempercepat penyelesaian peperangan. Pada Oktober 1832,
Luhak Limo Puluah telah berada dalam kekuasaan Belanda bersamaan dengan meninggalnya
Tuanku Lintau.
[18] Kemudian
Kaum Padri terus melakukan konsolidasi dan berkubu di
Kamang, tetapi seluruh kekuatan Kaum Padri di
Luhak Agam juga dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya
Kamang pada akhir tahun 1832, sehingga kembali Kaum Padri terpaksa mundur dari
kawasan luhak dan bertahan di Bonjol.
Selanjutnya pasukan Belanda mulai melakukan penyisiran pada beberapa kawasan yang masih menjadi basis
Kaum Padri. Pada Januari 1833, pasukan Belanda membangun kubu pertahanan di Padang Matinggi, tetapi sebelum mereka dapat memperkuat posisi, kubu pertahanan tersebut diserang oleh Kaum Padri dibawah pimpinan
Tuanku Rao yang mengakibatkan banyak korban di pihak Belanda.
[19] Namun dalam pertempuran di Air Bangis, pada
29 Januari 1833, Tuanku Rao menderita luka berat akibat dihujani
peluru. Kemudian ia dinaikkan ke atas
kapal untuk diasingkan. Belum lama berada di atas kapal, Tuanku Rao menemui ajalnya. Diduga jenazahnya kemudian dibuang ke
laut oleh tentara Belanda.
[20]Konsolidasi Kaum Adat dan Kaum Padri 1833
Kaum AdatSejak tahun
1833 mulai muncul kompromi antara
Kaum Adat dan
Kaum Padri.
[21] Pada 11 Januari 1833 beberapa kubu pertahanan dari garnisun Belanda diserang secara mendadak, membuat keadaan menjadi kacau;
[22] disebutkan ada sekitar 139 orang tentara Eropa serta ratusan tentara pribumi terbunuh.
Sultan Tunggul Alam Bagagar yang sebelumnya ditunjuk oleh Belanda sebagai Regent Tanah Datar, ditangkap oleh pasukan
Letnan Kolonel Elout pada tanggal 2 Mei 1833 di
Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan dan diasingkan ke
Batavia. Dalam catatan Belanda
Sultan Tunggul Alam Bagagar menyangkal keterlibatannya dalam penyerangan beberapa pos Belanda, tetapi pemerintah
Hindia Belanda juga tidak mau mengambil risiko untuk menolak laporan dari para perwiranya. Kedudukan Regent Tanah Datar kemudian diberikan kepada
Tuan Gadang di
Batipuh.
[7]Menyadari hal itu, kini Belanda bukan hanya menghadapi Kaum Padri saja tetapi secara keseluruhan masyarakat Minangkabau. Maka Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1833 mengeluarkan pengumuman yang disebut "
Plakat Panjang" berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri tersebut, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan, penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para
penghulu mereka dan tidak pula diharuskan membayar
pajak. Kemudian Belanda berdalih bahwa untuk menjaga keamanan, membuat
jalan, membuka
sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya kepada Belanda.
Serangan ke Bonjol 1833-1835

Letnan Kolonel Raaff dan pasukannya, dilukiskan oleh
Justus Pieter de Veer. Raaff meninggal dunia sebelum berakhirnya Perang Padri.
Romantisme kepahlawanan dalam Perang Padri, diilustrasikan oleh Justus Pieter de Veer.
Lamanya penyelesaian peperangan ini, memaksa
Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch pada 23 Agustus 1833 pergi ke Padang untuk melihat dari dekat proses
operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda.
[23] Sesampainya di Padang, ia melakukan perundingan dengan
Komisaris Pesisir Barat Sumatra,
Mayor Jenderal Riesz dan
Letnan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan
Benteng Bonjol, pusat komando pasukan Padri.
Riesz dan
Elout menerangkan bahwa belum datang saatnya yang baik untuk mengadakan serangan umum terhadap
Benteng Bonjol, karena kesetiaan penduduk
Luhak Agam masih disangsikan dan mereka sangat mungkin akan menyerang pasukan Belanda dari belakang. Tetapi
van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan Benteng Bonjol paling lambat 10 September 1833, kedua opsir tersebut meminta penangguhan enam hari sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16 September 1833.
Taktik
serangan gerilya yang diterapkan
Kaum Padri berhasil memperlambat gerak serangan Belanda ke
Benteng Bonjol, bahkan dalam beberapa perlawanan hampir semua perlengkapan perang pasukan Belanda seperti meriam beserta perbekalannya dapat dirampas. Pasukan Belanda hanya dapat membawa
senjata dan
pakaian yang melekat di tangan dan badannya. Sehingga pada 21 September 1833, sebelum Gubernur Jenderal Hindia Belanda digantikan oleh
Jean Chrétien Baud,
van den Bosch membuat laporan bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna penyerangan selanjutnya.
Selama 1834, Belanda memfokuskan pada pembuatan jalan dan jembatan yang mengarah ke
Bonjol dengan mengerahkan ribuan tenaga
kerja paksa. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mobilitas pasukannya dalam menaklukkan Bonjol. Selain itu pihak
Belanda juga terus berusaha menanamkan pengaruhnya pada beberapa kawasan yang dekat dengan kubu pertahanannya.
Pada 16 April 1835, Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan
Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer dimulai pada 21 April 1835, pasukan Belanda dipimpin oleh
Letnan Kolonel Bauer yang memecah pasukannya menuju Masang menjadi dua bagian yang bergerak masing-masing dari
Matur dan Bamban. Pasukan ini mesti menyeberangi
sungai yang saat itu tengah dilanda
banjir, dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba; mendaki
gunung dan menuruni
lembah; guna membuka jalur baru menuju Bonjol.
Pada 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi
Batang Gantiang, kemudian menyeberanginya dan berkumpul di Batusari. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang, daerah yang masih dikuasai oleh
Kaum Padri. Sesampainya di Sipisang, pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri. Pertempuran berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa henti, sampai banyak korban di kedua belah pihak. Akhirnya dengan kekuatan yang jauh tak sebanding, pasukan Kaum Padri terpaksa mundur ke hutan-hutan sekitarnya. Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda, kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol.
[24]Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban, hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah
Lembah Alahan Panjang. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah
Padang Lawas yang secara penuh masih dikuasai oleh
Kaum Padri. Namun pada 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini.
[25]Selanjutnya pada 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur
Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan di sana, sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya.
Pasukan Belanda berhasil mendekati
Bonjol dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835, kemudian mereka mencoba membuat kubu pertahanan. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser,
mortir dan meriam, pasukan Belanda menembaki Benteng Bonjol. Namun Kaum Padri tidak tinggal diam dengan menembakkan meriam pula dari Bukit Tajadi. Sehingga dengan posisi yang kurang menguntungkan, pasukan Belanda banyak menjadi korban.
Pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang dan pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu Benteng Bonjol di Bukit Tajadi.
Benteng Bonjol

Lukisan
Bonjol pada tahun
1839.
Benteng Bonjol terletak di atas
bukit yang hampir tegak lurus ke atas, dikenal dengan nama
Bukit Tajadi. Tidak begitu jauh dari benteng ini mengalir
Batang Alahan Panjang, sebuah sungai di tengah lembah dengan aliran yang deras, berliku-liku dari utara ke selatan. Benteng ini berbentuk segi empat panjang, tiga sisinya dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. Di antara kedua lapis dinding dibuat
parit yang dalam dengan lebar 4 meter. Dinding luar terdiri dari
batu-batu besar dengan teknik pembuatan hampir sama seperti
benteng-benteng di Eropa dan di atasnya ditanami
bambu berduri panjang yang ditanam sangat rapat sehingga Kaum Padri dapat mengamati bahkan menembakkan meriam kepada pasukan Belanda.
[26]Semak belukar dan
hutan yang sangat lebat di sekitar Bonjol menjadikan kubu-kubu pertahanan Kaum Padri tidak mudah untuk dilihat oleh pasukan Belanda. Keadaan inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Kaum Padri untuk membangun kubu pertahanan yang strategis, sekaligus menjadi markas utama Tuanku Imam Bonjol.
[27]Pengepungan Bonjol 1835-1837

Kejatuhan Bukit Tajadi, diilustrasikan oleh
Justus Pieter de Veer.
Melihat kokohnya
Benteng Bonjol, pasukan
Belanda mencoba melakukan blokade terhadap
Bonjol dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan
Padri. Blokade yang dilakukan ini ternyata tidak efektif, karena justru kubu-kubu pertahanan pasukan Belanda dan bahan perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan
Kaum Padri secara
gerilya.
Di saat bersamaan seluruh pasukan Kaum Padri mulai berdatangan dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda, yaitu dari berbagai negeri di Minangkabau dan sekitarnya. Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati
syahid.
Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol baru dilakukan kembali setelah bala bantuan
tentara yang terdiri dari pasukan
Bugis datang, maka pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan mulai dilakukan terhadap kubu-kubu pertahanan Kaum Padri yang berada di
Bukit Tajadi, dan pasukan
Bugis ini berada pada bagian depan pasukan Belanda dalam merebut satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Padri yang berada disekitar Bukit Tajadi.
[28]Namun sampai awal September 1835, pasukan Belanda belum berhasil menguasai Bukit Tajadi, malah pada tanggal 5 September 1835,
Kaum Padri keluar dari kubu pertahanannya menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat sekitar Bukit Tajadi. Setelah serangan tersebut, pasukan Kaum Padri segera kembali masuk ke dalam Benteng Bonjol.
Pada tanggal 9 September 1835, pasukan Belanda mencoba menyerang dari arah
Luhak Limo Puluah dan Padang Bubus, tetapi hasilnya gagal, bahkan banyak menyebabkan kerugian pada pasukan Belanda. Letnan Kolonel Bauer, salah seorang komandan pasukan Belanda menderita sakit dan terpaksa dikirim ke Bukittinggi kemudian posisinya digantikan oleh
Mayor Prager.
Blokade yang berlarut-larut dan keberanian Kaum Padri, membangkitkan semangat keberanian rakyat sekitarnya untuk memberontak dan menyerang pasukan Belanda, sehingga pada tanggal 11 Desember 1835 rakyat
Simpang dan Alahan Mati mengangkat senjata dan menyerang kubu-kubu pertahanan Belanda. Pasukan Belanda kewalahan mengatasi perlawanan ini. Namun setelah datang bantuan dari serdadu-serdadu
Madura yang berdinas pada pasukan Belanda, perlawanan ini dapat diatasi.
Frans David Cochius, komandan penaklukan Benteng Bonjol.
Hampir setahun mengepung Bonjol, pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda kembali melakukan serangan besar-besaran terhadap Benteng Bonjol, sebagai usaha terakhir untuk penaklukan Bonjol. Serangan dahsyat ini mampu menjebol sebagian Benteng Bonjol, sehingga pasukan Belanda dapat masuk menyerbu dan berhasil membunuh beberapa keluarga
Tuanku Imam Bonjol. Tetapi dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi Kaum Padri kembali berhasil memporak-porandakan musuh sehingga Belanda terusir dan terpaksa kembali keluar dari benteng dengan meninggalkan banyak sekali korban jiwa di masing-masing pihak.
Kegagalan penaklukan ini benar-benar memukul kebijaksanaan
Gubernur Jenderal Hindia Belanda di
Batavia yang waktu itu telah dipegang oleh
Dominique Jacques de Eerens, kemudian pada awal tahun 1837 mengirimkan seorang panglima perangnya yang bernama
Mayor Jenderal Cochius untuk memimpin langsung serangan besar-besaran ke
Benteng Bonjol untuk kesekian kalinya.
[29] Cochius merupakan seorang perwira tinggi Belanda yang memiliki keahlian dalam strategi perang
Benteng Stelsel.
Selanjutnya Belanda dengan intensif mengepung
Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret–17 Agustus 1837)
[30] dipimpin oleh jenderal dan beberapa perwira. Pasukan gabungan ini sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti
Jawa,
Madura,
Bugis dan
Ambon. Terdapat 148 perwira
Eropa, 36 perwira
pribumi, 1.103 tentara
Eropa, 4.130 tentara
pribumi, termasuk di dalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda tersebut di antaranya adalah
Mayjen Cochius, Letkol Bauer, Mayor Sous,
Mayor Prager, Kapten MacLean, Lettu van der Tak, Peltu Steinmetz, dan seterusnya. Kemudian ada juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, Merto Poero dan lainnya.
Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda, yang tiba pada 20 Juli 1837 dengan Kapal Perle di Padang, sejumlah orang Eropa dan Sepoys, serdadu dari
Afrika yang berdinas dalam tentara Belanda, direkrut dari
Ghana dan
Mali, terdiri dari 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs, serta dipimpin oleh Kapitein Sinninghe.
Serangan yang bergelombang serta bertubi-tubi dan hujan peluru dari pasukan
artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar, selama kurang lebih 6 bulan lamanya, serta pasukan
infantri dan
kavaleri yang terus berdatangan. Pada 3 Agustus 1837 dipimpin oleh
Letnan Kolonel Michiels sebagai komandan lapangan terdepan mulai sedikit demi sedikit menguasai keadaan, dan akhirnya pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837,
Bukit Tajadi jatuh, dan pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol secara keseluruhan dapat ditaklukkan. Namun
Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri keluar dari benteng dengan didampingi oleh beberapa pengikutnya terus menuju daerah
Marapak.
Penangkapan & Pengasingan Tuanku Imam Bonjol 1837
Dalam pelarian dan persembunyiannya,
Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, tetapi karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus, ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali.
Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837, dengan kesepakatan bahwa anaknya yang ikut bertempur selama ini, Naali Sutan Chaniago, diangkat sebagai pejabat kolonial Belanda.
[31]Pada 23 Januari 1838 Imam Bonjol dibuang ke
Cianjur, pada akhir 1838 ia dipindahkan ke
Ambon. Pada 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Lotta,
Minahasa, dekat
Manado, dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. Pada 8 November 1864, Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia pada tanggal
8 November 1864. Beliau dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.
Tuanku Imam Bonjol menulis autobiografi yang dinamakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang antara lain berisi kekecewaannya terhadap masyarakat Bonjol yang terpecah dan tidak mau bersatu.
[31] Tulisan tersebut merupakan karya sastra
autobiografi pertama dalam
bahasa Melayu disimpan oleh keturunan Imam Bonjol dan dipublikasikan tahun 1925 di Berkley,
[32] dan 2004 di Padang.
[31][33]Akhir Perang Padri 1838

Monumen Perang Padri yang dibangun pada masa Hindia Belanda
Meskipun pada tahun 1837
Benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda dan
Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap, tetapi peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir
Kaum Padri, di
Daludalu (
Rokan Hulu), yang waktu itu telah dipimpin oleh
Tuanku Tambusai jatuh pada 28 Desember 1838.
[34] Jatuhnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur, bersama sisa-sisa pengikutnya pindah ke
Negeri Sembilan di
Semenanjung Malaya dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai, kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi bagian dari
Pax Netherlandica dan wilayah
Padangse Bovenlanden telah berada di bawah pengawasan
Pemerintah Hindia Belanda.
Warisan Sejarah
Pengaruh dari peperangan ini menumbuhkan sikap
patriotisme kepahlawanan bagi masing-masing pihak yang terlibat. Selepas jatuhnya
Benteng Bonjol, pemerintah
Hindia Belanda membangun sebuah monumen untuk mengenang kisah peperangan ini.
[26] Kemudian sejak tahun 1913, beberapa lokasi tempat terjadi peperangan ini ditandai dengan tugu dan dimasukan sebagai kawasan wisata di
Minangkabau.
[35] Begitu juga selepas kemerdekaan Indonesia, pemerintah setempat juga membangun museum dan monumen di Bonjol dan dinamai dengan
Museum dan Monumen Tuanku Imam Bonjol.
Perjuangan beberapa tokoh dalam Perang Padri ini, mendorong pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai sebagai
Pahlawan Nasional.
Sumber: https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Perang_Padri
Fathan